Tokoh agama Papua minta patroli polisi diaktifkan kembali

id Tokoh agama Papua minta patroli polisi diaktifkan kembali
Tokoh agama Papua minta patroli polisi diaktifkan kembali
Pendeta Jhon Baransano (baju batik, kedua dari kiri) saat jumpa pers di Jayapura, Jumat (19/5) (Foto: Antara Papua/Evarukdijati)
Polisi harus kembali menggalakkan patroli terutama di daerah atau kawasan yang dianggap rawan kamtibmas. Saya prihatin dengan berbagai insiden kekerasan hingga menewaskan warga sipil yang kini marak terjadi baik di wilayah hukum Polres Jayapura Kota
Jayapura (Antara Papua) - Tokoh agama di Papua Pendeta Jhon Baransano meminta polisi kembali mengaktifkan patroli mengingat kurang kondusifnya situasi kamtibmas di sekitar Kota Jayapura.

"Polisi harus kembali menggalakkan patroli terutama di daerah atau kawasan yang dianggap rawan kamtibmas. Saya prihatin dengan berbagai insiden kekerasan hingga menewaskan warga sipil yang kini marak terjadi baik di wilayah hukum Polres Jayapura Kota maupun Polres Jayapura," kata Pendeta Baransano kepada Antara di Jayapura, Jumat.

Ia mengatakan selain menggalakkan patroli, juga diharapkan polisi bertindak tegas kepada para pelaku kriminal mengingat apa yang dilakukan sangat merugikan masyarakat, selain merampas harta milik masyarakat ternyata para pelaku tidak ragu ragu menganiaya hingga menewaskan warga.

Polisi semestinya melakukan tindakan tegas namun harus tetap sesuai prosedur kepolisian mengingat dalam melaksanakan aksinya para pelaku kejahatan menggunakan senjata tajam.

Kepada pemerintah daerah khususnya wali kota diminta memperbanyak membangun pos hingga mempersempit ruang gerak kelompok kriminal.

Pendeta Baransano juga mengharapkan tokoh agama terus bersuara dan mengajarkan kepada umatnya untuk tidak melakukan tindak kriminal.

"Saya prihatin karena yang menjadi korban adalah adalah pemuda dan para pelakunya juga rata rata pemuda," ujarnya.

Kota dan Kabupaten Jayapura dalam tiga minggu terakhir tercatat empat kasus penganiayaan yang menewaskan warga sipil termasuk kasus yang dialami Dr Suwandi, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga