Kamis, 19 Oktober 2017

Freeport genjot bidang perikanan-pertanian untuk berdayakan warga lokal

id Freeport genjot bidang perikanan-pertanian untuk berdayakan warga lokal, Mimika, Papua
Perusahaan sudah lebih dari 30 tahun melakukan program-program pemberdayaan masyarakat lokal, namun isu-isu soal kemiskinan masyarakat lokal hingga kini masih terus ada. Kita membutuhkan dukungan dari pemerintan, kita butuh gereja dan para pemangku k
Timika (Antara Papua) - PT Freeport Indonesia terus menggenjot program di bidang perikanan, pertanian dan perkebunan untuk memberdayakan masyarkat lokal di sekitar area pertambangan di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

Vice President PT Freeport bidang Social Local Development Claus Wamafma di Timika, Sabtu, mengatakan dalam mengimplementasikan berbagai program itu diperlukan kemitraan dengan pemerintah daerah melalui instansi teknis, lembaga gereja dan pihak-pihak terkait lainnya.

"Perusahaan sudah lebih dari 30 tahun melakukan program-program pemberdayaan masyarakat lokal, namun isu-isu soal kemiskinan masyarakat lokal hingga kini masih terus ada. Kita membutuhkan dukungan dari pemerintan, kita butuh gereja dan para pemangku kepentingan yang lain untuk bersama-sama melakukan pekerjaan berat untuk mengubah mental atau karakter masyarakat," kata Claus.

Ia mengatakan, program di bidang perikanan difokuskan pada masyarakat Suku Kamoro yang bermukim di kampung-kampung pesisir Mimika yang memiliki potensi perikanan yang sangat kaya.

Sementara di bidang pertanian dan perkebunan akan dikembangkan di wilayah dataran tinggi Mimika yang merupakan tempat bermukim Suku Amungme. Di dataran tinggi Mimika telah dikembangkan perkebunan kopi di Kampung Aroanop, Tsinga dan Banti.

Perusahaan juga berencana mengembangkan perkebunan teh di Aroanop dan sekitarnya.

Selain pengembangan potensi perikanan tangkap di wilayah pesisir Mimika, PT Freeport juga telah bekerja sama dengan Koperasi Maria Bintang Laut Keuskupan Timika mengembangkan perkebunan sagu seluas 86 hektare di Kampung Nayaro dan kelapa di kampung-kampung pesisir Mimika.

"Kami akan terus melakukan evaluasi dan pendampingan sampai dimana kita menganggap bahwa masyarakat lokal dengan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki sudah mampu menghidupi kehidupannya sendiri. Melalui program-program yang ada diharapkan dapat menjadi sumber penghidupan untuk masyarakat lokal dalam jangka panjang apakah itu lewat program pertanian, perikanan atau program-program ekonomi yang lain," jelas Claus.

Ia mengakui persoalan utama kemiskinan masyarakat lokal bukan pada ketiadaan sumber daya alam dan ketidaan uang, tapi bagaimana mengubah karakter dan mentalitas masyarakat untuk dapat mengelola uang yang ada agar dipergunakan secara tepat.

Selain itu, katanya, PT Freeport terus melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap program yang dilakukan agar tidak terjadi reaksi penolakan dari masyarakat setempat.

Uskup Timika Mgr John Philip Saklil Pr mengatakan persoalan terberat yang dihadapi oleh masyarakat Papua dewasa ini yaitu kemiskinan mental.

Ia mengatakan, dewasa ini masyarakat Papua dihadapkan dengan banyak kemudahan mendapatkan uang, tetapi mereka tetap hidup miskin di atas kekayaan alam negerinya yang sangat melimpah.

"Kemiskinan yang paling berat di Papua yaitu kemiskinan mental. Masyarakat tidak memiliki budaya dan etos kerja untuk melipatgandakan apa yang dipunyai menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Apalagi di Timika, banyak kemudahan untuk mendapatkan uang. Ada dana Otsus, ada dana desa, ada dana Ombas, ada bantuan dari PT Freeport, ada bantuan dari LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) dan lain-lain, tapi mengapa masyarakat tetap saja miskin," ujarnya.

Menurut Uskup Saklil, semua pihak baik pemerintah, gereja, PT Freeport dan lembaga-lembaga yang ada sudah melakukan banyak hal untuk mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat lokal, namun hasilnya tetap sama karena karakter masyarakat yang tidak mau berubah.

"Apalagi masyarakat saya Suku Kamoro, mereka tidak akan kaya karena kelakuan tidak berubah. Begitu dapat uang, hanya dihabiskan untuk minum alkohol. Jadi, persoalan kita ada di situ. Bagaimana kita bisa membangun karakter masyarakat agar mereka bisa mandiri dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Kita bisa buat segala macam program, tapi yang paling pentig tujuan akhirnya yaitu mengubah karakter dan mentalitas masyarakat," pesan Uskup Saklil.

Saat peluncuran program ekonomi kepada masyarakat delapan kampung di wilayah pesisir Mimika bertempat di Rumah Transit Bobaigo Keuskupan Timika, Kamis (27/7), PT Freeport menyerahkan bantuan 1.000 paket sarana produksi berupa jaring, cool box dan alat timbang ikan.

PT Freeport juga menyerahkan lima unit kendaraan bus untuk mengangkut masyarakat dan pabrik es balok untuk pengawetan ikan kepada Koperasi Maria Bintang Laut Keuskupan Timika yang akan digunakan untuk menunjang program perikanan di wilayah pesisir Mimika. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga