Minggu, 22 Oktober 2017

Dinkes sewa pesawat angkut pasien dari Korowai

id Dinkes sewa pesawat angkut pasien dari Korowai, UP2KP, Papua, Dinas Kesehatan
Pembiayaan pasien itu selama di rumah sakit baik perawatan hingga tindakan operasi digratiskan dengan menggunakan Kartu Papua Sehat (KPS).
Jayapura (Antara Papua) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua menyewa pesawat berbadan kecil untuk membawa seorang anak yang luka di bagian dahi dan diduga tumor dari Korowai ke Jayapura untuk berobat.

"Tanggal 30 September 2017, saya dikontak oleh salah seorang misionaris yang bekerja di Korowai, di daerah Danau Wage, namanya Pak Trafer, bahwa ada pasien di Korowai, kami langsung sewa pesawat untuk mengangkut anak itu ke Jayapura," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Papua dr Silvanus Sumule di Jayapura, Kamis.

Pembiayaan pasien itu selama di rumah sakit baik perawatan hingga tindakan operasi digratiskan dengan menggunakan Kartu Papua Sehat (KPS).

Korowai berada di persimpangan Kabupaten Yahukimo, Mappi, Boven Digoel, dan Asmat. Kehidupan suku yang baru ditemukan sekitar 30 tahun lalu masih terisolasi.

"Pak Trafer ini sudah lama bekerja sama dengan kami di Dinas Kesehatan Provinsi Papua, beberapa bulan lalu di tahun ini kami Dinkes Papua memberikan dukungan berupa obat-obatan kepada mereka," ujarnya.

Dia mengatakan belakangan ini Dinas Kesehatan Papua terus memberikan dukungan berupa obat-obat kepada misionaris tersebut.

"Misionaris ini kontak saya bahwa ada pasien, jadi pasien itu dia kirim fotonya kepada saya. Kami langsung merespon dan saya bilang segera dikirim ke Jayapura untuk berobat," ujarnya.

Pasien itu dikirim dari Korowai ke Jayapura pada Selasa (2/10) tiba di Bandara Sentani lalu dibawa ke Rumah Sakit Dian Harapan.

"Mengapa, karena pasien yang masih tergolong anak ini terdapat luka yang menganga di bagian rahangnya, dan perlu penanganan serius," ujarnya.

Pada Rabu (4/10), dokter di RS Dian Harapan mendiagnosis bahwa luka di bagian rahang akibat infeksi, tetapi tidak menutup kemungkinan sebagai kangker.

"Kita masih membutuhkan beberapa pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis sebenarnya pasien itu menderita jenis penyakit apa," ujarnya.

Ia mengatakan pasien belum bisa dioperasi karena kondisi belum memungkinkan.

"Hingga kini kita masih memberikan obat antibiotik agar infeksinya tidak meluas. Sesudah itu barulah dilakukan tindakan operasi," kata dia.(*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga