Minggu, 22 Oktober 2017

Syahbandar: kolam PPI Paumako perlu pengerukan

id Syahbandar: kolam PPI Paumako perlu pengerukan, Mimika, Papua
Kalau kondisi surut terendah, kedalaman perairan sekitar dermaga PPI Paumako tidak sampai satu meter. Sedangkan kalau pasang tertinggi bisa mencapai 1,8 meter bahkan sampai dua meter
Timika (Antara Papua) - Pengelola Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Paumako Timika merekomendasikan segera dilakukan pengerukan area kolam bandar di sekitar lokasi itu lantaran kondisinya sudah sangat dangkal.

Syahbandar PPI Paumako Andi Abdul Gaffar di Timika, Jumat mengatakan area kolam bandar sekitar PPI Paumako kini kedalamannya hanya sekitar 80 centimeter pada saat surut terendah.

"Kalau kondisi surut terendah, kedalaman perairan sekitar dermaga PPI Paumako tidak sampai satu meter. Sedangkan kalau pasang tertinggi bisa mencapai 1,8 meter bahkan sampai dua meter," kata Gaffar.

Menurut dia, kondisi itu sangat menghambat aktivitas kapal ikan maupun kapal-kapal masyarakat yang hendak berlabuh di PPI Paumako.

Pendangkalan yang terjadi di sekitar kolam bandar PPI Paumako itu, kata Gaffar, akibat pengaruh menumpuknya material sedimentasi yang dibawa arus sungai dari hulu.

Satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah itu, katanya, yaitu melalui pengerukkan.

"Memang harus segera dilakukan pengerukkan. Kalau tidak, kondisinya akan semakin parah," kata Gaffar.

Ia menambahkan, semenjak diresmikan beberapa waktu lalu oleh Bupati Mimika Eltinus Omaleng, fasilitas PPI Paumako hingga kini belum memadai.

Tidak heran, fasilitas yang dibangun dengan dana puluhan miliar rupiah itu belum maksimal dimanfaatkan oleh kapal-kapal ikan untuk menurunkan hasil tangkapan mereka.

Hal tersebut, katanya, berbeda dengan PPI di Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, yang sudah bisa didarati sekitar 1.000 kapal ikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua FX Motte, beberapa waktu lalu, mengatakan jajarannya tengah mengusulkan pengembangan sejumlah PPI di Papua, seperti PPI Lampu Satu Merauke menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), PPI Paumako Timika menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP), PPI Hamadi Jayapura menjadi PPN, dan PPN Biak menjadi Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS).

"Hal ini sudah kami bicarakan dengan KKP, mudah-mudahan dalam waktu dekat surat keputusannya sudah bisa direalisasikan," kata Motte.

Ia mengatakan peningkatan status dan kapasitas sejumlah PPI tersebut sangat penting, agar industri perikanan di Papua bisa bangkit kembali.

Selain itu, dengan akan dibangun PPS di Biak yang berlokasi di Wadibu, Kampung Anggobi, Distrik Oride, ke depan lokasi itu bisa menjadi tempat ekspor ikan dari Papua langsung ke luar negeri.

Menyinggung tentang PPI Paumako Timika sudah diresmikan sejak 2016, namun hingga kini belum berfungsi maksimal, Motte mengatakan ada sejumlah fasilitas yang perlu ditambah oleh pemerintah, termasuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).

"Kalau sepengetahuan kami fasilitas PPI Paumako Timika sudah hampir lengkap, tinggal SPBN saja. Sudah ada sarana air bersih, pabrik es dan pendingin ikan," kata Motte. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga